KETIMPANGAN AKSES DI RUANG PUBLIK SURABAYA

  • Apakah seni jalanan di ruang publik Surabaya telah menjadi wajah jujur terhadap kondisi Surabaya? Simak dalam artikel ini!

“SIAPA SURABAYA?” : KETIMPANGAN AKSES IMAJI DI RUANG PUBLIK SURABAYA

OLEH BASKORO ARIS SANSOKO

Jika ada pertanyaan, “Bagaimana Surabaya menurutmu?” akan muncul ratusan jawaban dan kumpulan wacana. Apakah kedudukan ratusan jawaban dan kumpulan wacana ini seimbang? Tentu tidak. Ada wacana dominan yang diupayakan untuk menjadi cerita, narasi, dan imajinasi satu-satunya tentang Surabaya.

Wacana bahwa Surabaya adalah kota yang modern, tertata, rapi, dan inklusif; ramah pejalan kaki, ramah kelompok terpinggirkan, ramah kelompok disabilitas, ramah pesepeda, dan berbagai keramahan lainnya. Upaya menjadikan wacana ini dominan bisa dilihat di situs Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Surabaya, akun Facebooknya, akun Instagramnya, dan akun Twitternya.

Apakah berhenti sebatas di sini? Tentu tidak. Salah satu upaya ditempuh melalui pengaturan ruang publik di Surabaya. Gaya, warna, dan nuansa ruang publik diatur sedemikian rupa untuk semakin mengukuhkan wacana dominan tentang Surabaya. Salah satu aspek ruang publik yang diatur dan menjadi fokus utama dalam tulisan ini adalah seni jalanan atau street art.

Apakah wacana dominan yang tercermin dalam street art ini merupakan wajah yang jujur dari kota Surabaya? Tentu bisa diragukan. Sebelum memberikan jawaban yang lebih pasti tentang pertanyaan di atas, penulis menghubungi Serikat Mural Surabaya. Serikat Mural Surabaya merupakan kumpulan pegiat seni jalanan yang aktif dan vokal suarakan kritik sosial melalui seni jalanan di ruang publik.

Alasan penulis menghubungi Serikat Mural Surabaya adalah untuk mengetahui proses yang ditempuh oleh pegiat seni jalanan dalam menuangkan suaranya di ruang publik Kota Surabaya. Penulis menggunakan pengetahuan atas proses ini sebagai landasan yang lebih pasti untuk menjawab pertanyaan di atas.

Jika proses yang dilalui mudah dan Pemerintah Kota Surabaya tidak menghalangi seni jalanan yang sampaikan kritik pada kota, maka street art di Surabaya kemungkinan besar merupakan wajah jujur Surabaya. Jika sebaliknya, berarti ada pembatasan akses untuk menyuarakan kegelisahannya sehingga gagal menuangkan wacana (cerita, narasi, dan imajinasi) yang dimiliki tentang Kota Surabaya.

Serikat Mural Surabaya dan Tidak Bebasnya Berseni Jalanan di Ruang Publik Surabaya

Serikat Mural Surabaya terbentuk di tahun 2011. Awalnya sebagai wadah untuk mencegah konflik antara kelompok-kelompok pegiat seni jalanan dalam berkarya di ruang publik. Wadah ini kemudian menjadi tempat koordinasi untuk bersuara dalam satu narasi melalui street art pada berbagai momen. Saat ada isu sosial yang merebak, tidak jarang Serikat Mural Surabaya menuangkan suara kritiknya di ruang publik Kota Surabaya.

Perihal kebebasan berseni jalanan di Surabaya, Serikat Mural Surabaya menilai bahwa kebebasan itu sempit di Surabaya. Xgo, salah satu pendiri Serikat Mural Surabaya, mengakui bahwa sejak diadakannya acara Preparatory Committee III UN Habitat di Surabaya pada tahun 2016, Pemerintah Kota Surabaya mulai melibatkan banyak seni jalanan (terutama mural) dalam penampilan ruang publik kota.

Hanya saja, masa tersebut justru menjadi momentum yang membuat seni jalanan kehilangan ruh kritik dan perlawanannya. Pemerintah Kota Surabaya hanya memberikan izin terhadap seni jalanan yang sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Seni jalanan yang dianggap berlawanan dengan wacana yang hendak dibangun tentang Surabaya akan dipersulit bahkan tidak diperbolehkan. Hal ini tentu membatasi suara-suara bernuansa kritik dalam bentuk seni jalanan untuk hadir di ruang publik Kota Surabaya.

Alhasil, seni jalanan yang legal dan diizinkan Pemerintah Kota Surabaya hanya yang sesuai dengan apa yang mereka visikan tentang Surabaya. Sisanya yang tidak diizinkan? Dinilai sebagai vandalisme atau pengrusakan terhadap ruang publik. Hal ini menurut Xgo merupakan sebuah hal yang ironis.

Ironis karena apa yang dinilai sebagai vandalisme itu merupakan suara yang jujur dan organik dari sebagian publik namun di sisi lain reklame iklan yang menyuarakan kepentingan perusahaan dan pribadi dibiarkan bebas begitu saja. Ruang publik tidak lagi seutuhnya dimiliki publik, tapi dimiliki oleh sebagian kelompok yang direstui oleh pihak otoritas. Ruang publik tidak menjadi seutuhnya tentang publik, tapi justru tentang periklanan produk dan apa yang mendukung visi yang hendak diproyeksikan tentang Kota Surabaya.

Beberapa anggota Serikat Mural Surabaya ada yang sempat ditahan oleh Satpol PP Surabaya karena tertangkap basah saat meninggalkan seni jalanan dalam bentuk mural, grafitti, atau sekadar tulisan. Bahkan pernah ada momen, menurut penuturan Xgo, ketika 9 anggota Serikat Mural Surabaya yang masih pelajar dengan identitas yang jelas ditaruh di Pondok Liponsos dan diperlakukan dengan tidak pantas. Momen ini menjadi pemantik Street Art Melawan yang diinisiasi oleh Serikat Mural Surabaya.

Wajah Tidak Jujur Ruang Publik Surabaya

Berdasarkan uraian singkat di atas dapat dijawab bahwa seni jalanan yang ditampilkan di Kota Surabaya belum merupakan wajah jujur Surabaya. Ada kegelisahan yang ditutupi. Ada suara kritik yang dihalangi. Ada citra yang hendak dibangun dan perilaku masyarakat diawasi serta dikendalikan agar citra tersebut tetap melekat pada Kota Surabaya.

Hal ini, sejatinya, berlawanan dengan nilai inklusif yang sedang berusaha dicitrakan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Sebagai peneliti dan sebagai pegiat gerakan sosial, penulis mendorong upaya nyata untuk dapat menghadirkan suara kritik di ruang publik Kota Surabaya. Bagaimanapun, Kota Surabaya adalah milik warga; milik kita semua termasuk yang terpinggir; bukan hanya pemerintah, pengusaha, dan kelas menengah yang nyaman dalam kondisi ini.

Nb: Foto di Atas Diambil dari dan Diunggah dengan Izin Serikat Mural Surabaya